Bukittinggi, Haluan Demokrasi – Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PD IPM) dan Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Bukittinggi resmi dilantik dalam sebuah seremoni yang berlangsung di Rumah Dinas Wali Kota Bukittinggi, Sabtu (12/7). Pelantikan ini sekaligus menandai penguatan kaderisasi organisasi otonom Muhammadiyah di ranah pelajar dan mahasiswa.
Ketua Umum PD IPM Bukittinggi, Qoidun Nazhira Asy Syauqi, dilantik oleh perwakilan Pimpinan Wilayah IPM Sumatera Barat, sementara Darwansyah resmi menjabat sebagai Ketua Umum PC IMM Bukittinggi setelah dilantik oleh DPW IPM Sumatera Barat.
Usai pelantikan, kegiatan dilanjutkan dengan dialog publik bertema “Muhammadiyah dan Semangat Literasi Intelektual: Bukittinggi sebagai Titik Temu Sejarah Pergerakan, Pendidikan, dan Keistimewaan Daerah.” Diskusi ini menjadi ruang gagasan yang membedah secara kritis potensi Bukittinggi untuk menyandang status sebagai kota istimewa di Indonesia.

Empat narasumber dihadirkan dalam dialog tersebut:
1. Ibnu Asis, S.Tp – Wakil Wali Kota Bukittinggi
2. Dr. Riki Saputra, M.A – Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat
3. Very Chofa, S.H., LL.M., Dt. Tun Muhammad – Ketua LKAAM Bukittinggi
4. Isral Naska, S.Pd., M.A., Ph.D – Peneliti sosial budaya Minangkabau, Direktur Pusat Studi Islam dan Minangkabau UM Sumbar
Diskusi dimoderatori oleh Aisyah Chairil, S.H., M.H. kader Aisyiyah Bukittinggi, yang memandu jalannya dialog secara interaktif.
Wakil Wali Kota Bukittinggi, Ibnu Asis, dalam pemaparannya menekankan pentingnya merekonstruksi sejarah Bukittinggi sebagai kota yang memiliki kontribusi besar terhadap Republik Indonesia. Ia menyebut peran Bukittinggi dalam Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), pendidikan Islam modern, serta dinamika budaya lokal sebagai landasan kuat bagi usulan status keistimewaan.
Senada dengan itu, Rektor UM Sumatera Barat, Dr. Riki Saputra, menyatakan bahwa penguatan literasi sejarah dan intelektual pelajar dan mahasiswa Muhammadiyah sangat penting untuk membentuk kesadaran kolektif dalam pembangunan berbasis identitas lokal.
Sementara itu, Ketua LKAAM Bukittinggi, Very Chofa menekankan bahwa keistimewaan daerah tidak semata soal administrasi pemerintahan, melainkan juga pengakuan terhadap adat dan kearifan lokal sebagai kekuatan sosial budaya yang tumbuh dari masyarakat itu sendiri.

Direktur Pusat Studi Islam dan Minangkabau, Isral Naska, menambahkan bahwa Bukittinggi bukan hanya titik temu sejarah, tetapi juga episentrum intelektualisme Islam modern yang telah melahirkan banyak tokoh nasional.
Acara ini turut dihadiri oleh Ketua DPRD Kota Bukittinggi, pimpinan organisasi otonom Muhammadiyah, akademisi, tokoh masyarakat, serta ratusan pelajar dan mahasiswa.
Melalui pelantikan ini, IPM dan IMM Bukittinggi menegaskan komitmennya untuk menjadi motor penggerak perubahan sosial, sekaligus garda intelektual dalam memperjuangkan masa depan Bukittinggi yang lebih berkeadaban dan bermartabat.
( Faris Iswandi )