Air Bangis, Haluan Demokrasi – Di tengah minimnya dukungan pemerintah nagari terhadap kegiatan literasi, seorang anak nagari bernama Nurul Kifani Putri berinisiatif membangun sebuah komunitas baru bernama Komunitas Literasi Air Bangis. Komunitas ini resmi meluncurkan program perdananya bertajuk Lapak Baca Gratis pada Minggu, 6 Juli 2025, yang digelar terbuka untuk masyarakat umum di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Air Bangis, Kecamatan Sungai Beremas, Pasaman Barat.
“Latar belakang dibentuknya Komunitas Literasi Air Bangis ini adalah karena saya melihat banyaknya organisasi dan komunitas yang dulunya aktif, namun sekarang sudah vakum. Jadi saya berniat ingin membangkitkan semangat organisasi dan komunitas yang vakum tersebut, agar bisa bangun dari tidurnya,” ujar Nurul, Founder Komunitas Literasi Air Bangis, saat ditemui di lokasi kegiatan. Ia menambahkan, komunitas ini merupakan suatu upaya untuk membenahi generasi muda air bangis, yang mana pada sekarang ini rentan terhadap kegiatan negatif seperti pergaulan bebas, narkoba, dan lainnya.
Lapak Baca Gratis menjadi bentuk nyata kepedulian generasi muda terhadap rendahnya minat baca dan kurangnya akses literasi di Air Bangis. Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini mendapat dukungan dengan menjalin kolaborasi dengan The Winner Duta GenRe Pasaman Barat 2025, Moufty Azhar El Faiz, serta bersama Organisasi OSIM dan PIK-R MAN 1 Pasaman Barat.
Duta GenRe Pasaman Barat, Mouthy, yang turut hadir dan terlibat dalam kegiatan tersebut, menilai bahwa inisiatif seperti ini sangat penting untuk memperluas wawasan generasi muda dan menguatkan karakter mereka.
“Literasi bukan hanya soal membaca buku, tapi tentang membangun kesadaran berpikir dan bertindak secara bijak, jadi saya berharap agar pemerintah nagari mempunyai perhatian khusus terhadap peningkatan literasi untuk mencerdaskan masyarakat.” ujar Moufty, The Winner Duta GenRe Pasaman Barat 2025.
Kegiatan Lapak Baca mendapat sambutan hangat dari masyarakat, khususnya para pelajar. Namun, di balik antusiasme tersebut, terselip ironi. Tidak ada satu pun bentuk dukungan, baik moril maupun materil, dari pihak Pemerintah Nagari Air Bangis.
Hal ini menjadi sorotan, mengingat komunitas ini hadir bukan untuk mencari keuntungan, melainkan menjawab kebutuhan pendidikan informal yang selama ini luput dari perhatian pemerintah setempat.
“Sangat disayangkan, ketika anak-anak muda berusaha menghadirkan perubahan melalui literasi, pemerintah nagari justru abai dan tidak menunjukkan sedikit pun dukungan. Padahal, mereka selalu bicara soal pembangunan SDM, tapi ketika ada gerakan nyata dari masyarakat, mereka diam seakan tidak peduli,” kata Nurul.
Moufty Azhar El Faiz, The Winner Duta GenRe Pasaman Barat 2025 juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap pemerintah nagari karena tidak adanya apresiasi atas prestasi dan dukungan terhadap prestasi yang diraih generasi muda.
“Saya berharap pemerintah nagari memberikan perhatian terhadap generasi muda, banyak generasi muda air bangis yang mempunyai prestasi, namun tidak adanya dukungan dan apresiasi dari pemerintah nagari. Dan juga seperti banyaknya organisasi dan komunitas di air bangis secara perlahan redup dan menghilang karena tidak adanya support dari pemerintah nagari. Meskipun begitu, kami berkomitmen untuk terus melakukan pendekatan terhadap pemerintah nagari dengan harapan bisa menjadi mitra dalam program-program yang positif, terkhusus Komunitas Literasi Air Bangis,” ujar Moufty.
Komunitas Literasi Air Bangis berkomitmen untuk melanjutkan program-program edukatif lainnya meski tanpa bantuan pemerintah. Namun, Komunitas Literasi Air Bangis mempunyai harapan besar agar mendapatkan support dari Pemerintah Nagari. Mereka berharap gerakan kecil ini dapat menjadi pemantik lahirnya kesadaran kolektif akan pentingnya literasi sebagai pondasi kemajuan nagari.
(Faris Iswandi)